Perempuan Indonesia Terbaik Dalam Hal Wirausaha

Kamu perempuan atau kenal sama perempuan yang lagi jalanin bisnis? Kalau iya, berarti kamu atau orang yang kamu kenal ini merupakan satu dari sekian banyak perempuan yang membuat Indonesia jadi negara dengan partisipasi perempuan tertinggi di bidang kewirausahaan. Temuan ini merupakan salah satu hasil dari survei bertajuk “Advancing Women in Entrepreneurship”  yang dilakukan oleh Google bersama lembaga peneliti pasar Kantar. Temuan apa lagi ya, yang bisa menginspirasi kamu buat mengikuti jejak mereka?

Survei ini dilakukan dari bulan Januari hingga Februari 2020 dengan mengambil sampel dari 990 responden perempuan dan 510 responden laki-laki. Dilansir dari Katadata, setidaknya ada empat poin menarik seputar keterlibatan perempuan sebagai pelaku wirausaha ini. Yuk, kita bahas satu per satu!

1. Hampir Separuh Responden Perempuan Udah Jalanin Bisnis

49% perempuan yang disurvei menyatakan kalau mereka sudah menjadi pengusaha yang memiliki bisnis. Selain itu, 45% lainnya menyatakan kalau mereka ingin memulai bisnisnya. Persentase yang merupakan tertinggi di Asia Tenggara ini membuktikan betapa besarnya minat perempuan Indonesia untuk berwirausaha. Sementara itu, ada 61% responden laki-laki yang menyatakan kalau mereka sudah memiliki bisnis dan 34% sisanya menyatakan ingin memulai bisnis. Walau masih kalah dari laki-laki dalam hal kepemilikan bisnis, tapi dari segi minat rupanya perempuan lebih unggul.    

Meski minat perempuan Indonesia amatlah besar, tapi masih ada beberapa tantangan yang harus mereka hadapi. Kurangnya rasa percaya diri dianggap sebagai tantangan terbesar, disusul dengan rasa takut akan kegagalan dan kurangnya pemahaman tentang bagaimana cara memulai sebuah usaha. Minimnya rasa percaya diri ini menyebabkan mayoritas perempuan (59%) merasa perlu adanya perbaikan pada akses ke kelompok sosial yang suportif.

2. Tantangan Budaya Masih Jadi Kendala

Selain tantangan yang berasal dari diri sendiri, ada juga tantangan yang berasal dari luar atau faktor lingkungan. Anggapan kalau perempuan seharusnya fokus untuk mengurusi rumah tangga masih banyak dipercaya oleh masyarakat. Survei membuktikan, 52% perempuan percaya kalau mereka masih boleh melakukan pekerjaan lain bahkan setelah menjadi ibu. Sementara itu, hanya ada 41% responden laki-laki yang percaya akan hal ini. Rapor buruk juga didapat dalam hal mengurus pekerjaan rumah tangga. 67% responden perempuan masih merasa kalau pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab utama mereka. Sedangkan hanya ada 24% responden laki-laki yang percaya kalau mereka bertanggung jawab penuh atas pekerjaan rumah tangga. Fakta lain juga menemukan kalau rata-rata perempuan menghabiskan 3,1 jam untuk melakukan pekerjaan rumah tangga ini. Angka ini 24% lebih banyak dari waktu yang dihabiskan oleh laki-laki yaitu 2,5 jam.

Meski stigma perempuan sebagai ibu rumah tangga ini masih kuat, tapi ada perkembangan terkait kewajiban ibu dalam hal mengurus anak. Survei ini menemukan kalau ‘hanya’ ada 60% responden perempuan yang merasa kalau mengurus anak adalah kewajiban mereka. Bandingkan dengan angka 80% yang didapat pada tahun 2017 lalu. Perkembangan serupa juga datang dari pihak laki-laki. Terdapat 21% responden laki-laki yang merasa kalau mengurus anak adalah tanggung jawab mereka. Sementara pada tahun 2017, hanya ada 6% responden laki-laki yang merasakan hal ini.

3. Mayoritas Perempuan Ingin Tingkatkan Skill Bisnis Mereka

Delapan dari sepuluh perempuan yang sudah memulai bisnis atau baru memulai bisnisnya rupanya punya keinginan untuk meningkatkan skill mereka dalam hal berbisnis. Mereka ingin lebih piawai dalam hal mengelola keuangan, memanfaatkan platform digital, dan lain-lain. Bahkan 83% dari responden menyatakan kalau mereka berkeinginan untuk mengikuti pelatihan online dalam rangka mendapatkan skill yang bisa memajukan bisnis mereka. Persentase ini juga ternyata jadi yang terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Ketertarikan perempuan untuk mengikuti pelatihan online ini ditengarai karena banyaknya waktu yang mereka habiskan untuk online per harinya. Rata-rata perempuan  pengguna internet di Asia Tenggara memang biasa menghabiskan waktu 5,5 jam untuk online. Mayoritas dari mereka (85%) online menggunakan ponsel. Hmm, pantas saja selama pandemi ini banyak banget iklan webinar. Salah satu webinar terbaik untuk belajar bisnis dan digital marketing adalah TokoClass. Di sini kamu bisa belajar langsung dari ahlinya. Makanya stay tuned terus di toko.ly/seminar biar gak ketinggalan!

4. Semakin Setara dalam Hal Wirausaha

Berdasarkan laporan Global Entrepreneurship Monitor (GEM) 2019, Indonesia mencatat nilai rasio kegiatan wirausaha antargender sebesar 1,01 atau yang tertinggi di Asia Pasifik. Bandingkan dengan tahun sebelumnya yang ‘hanya’ sebesar 0,69. Thailand dan Taiwan menduduki posisi kedua dan ketiga dengan masing-masing memiliki rasio sebesar 0,96 dan 0,87.

Selain memiliki rasio terbaik di Asia Tenggara, ternyata Indonesia juga berada di peringkat kedua dunia dari 48 negara yang disurvei. Menariknya, persentase perempuan usia dewasa yang memiliki bisnis ternyata lebih tinggi daripada laki-laki. Dari total populasi perempuan di Indonesia, 14,1% diantaranya udah punya bisnis sendiri. Sementara itu, baru ada 14% laki-laki yang merupakan pelaku bisnis. 

Perempuan punya potensi yang luar biasa besar untuk kembali menggerakkan roda perekonomian setelah sebelumnya terkena dampak pandemi. Selain itu, antusiasme mereka dalam hal peningkatan keahlian berbisnis juga patut diapresiasi. Banyak dari mereka juga sudah memanfaatkan platform digital dalam berjualan. Salah satu platform digital terbaik untuk mendukung bisnis adalah TokoTalk. Selain praktis dan mudah digunakan oleh ibu-ibu yang mungkin tidak memiliki banyak waktu karena sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, TokoTalk juga menyediakan kelas webinar bagi mereka yang ingin belajar lebih seputar bisnis dan teknik marketing melalui TokoClass. Yuk, buat tokomu sekarang!

Sebarkan artikel:
0Shares
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *